Jumat, 18 November 2016

Mengenal Arus Kas

Mengenal Arus Kas




Istilah arus kas sudah terlalu sering didengar dalam setiap kali perbincangan yang berbau bisnis. Mulai dari mereka yang bisnis di pinggir jalan, dagang eceran, asongan hingga mereka yang bisnisnya dikendalikan dari gedung-gedung pencakar langit yang mentereng selalu bicara soal arus kas. Apapun bisnisnya, arus kas kuncinya. Lantas, apa yang disebut dengan arus kas?

Arus kas bisa dibilang istilah keren dalam dunia bisnis. Apapun jenis bisnisnya, Anda tidak mungkin lepas dari masalah arus kas.

Begitu Anda mulai bicara soal bisnis, hampir tidak mungkin Anda tidak bicara arus kas. Ia sangat strategis, memegang peranan vital dalam aktifitas atau operasional perusahaan. Bahkan di rumah tangga bahkan tingkat individu sekalipun, masalah arus kas tidak luput dari bahan perbincangan.

Di level individu misalnya. Saat kalender sudah menunjukkan tanggal tua, banyak orang yang mengeluh kantongnya tipis, cekak, seret, atau berbagai istilah lain yang menggambarkan betapa uang yang dipegang di tangan sudah tinggal sedikit, sementara pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan tidak bisa dihentikan.

Orang-orang yang seperti ini memiliki masalah dalam pengelola arus kas pribadinya atau arus kas-nya. Orang yang pintar mengatur arus kas ia selalu berhitung kapan uang harus keluar dan untuk apa pengeluaran dilakukan.

Jika kebutuhan bisa ditunda, maka ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan itu saat ini. Dengan begitu, arus kas-nya selalu terjaga dan kebutuhan utama bisa terpenuhi.

Penambahan pengeluaran hanya dilakukan jika ada penambahan pendapatan, sehingga antara pengeluaran dan pendapatan selalu terjaga dalam kondisi yang stabil atau sehat.

Nah, kira-kira pola pengelolaan keuangan seperti itu juga dan pasti diterapkan dalam rumah tangga, perusahaan, atau berbagai organisasi yang memperhatikan kontinuitas atau kesinambungan. Bagi perusahaan, apalagi yang sudah berstatus perusahaan publik, arus kas sangat penting.

Begitu pentingnya arus kas, seorang bisnisman mengibaratkan arus kas adalah raja dalam perusahaan, bukan CEO atau board of directors ataupun board of commissioners. Alasannya sederhana, arus kas-lah yang menentukan jalannya perusahaan, hidup mati perusahaan, bukan CEO, direksi dan atau komisaris.

Jika tidak ada arus kas, direksi tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sepintar apapun CEO atau direksi, dan secanggih apapun perencanaan dan ekspansi yang akan dilakukan, jika tidak didukung arus kas yang sehat maka semua itu tidak ada artinya.

Karena itu, dalam kaitan dengan publikasi laporan keuangan emiten 2010 yang berakhir pada 31 Maret lalu, sebaiknya perhatian investor atau pelaku pasar jangan cuma tertuju ke masalah klasik seperti neraca keuangan dan laporan laba rugi.

Dua hal itu memang penting dalam laporan keuangan, tapi hal yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah laporan arus kas. Arus kas adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan.

Mengapa? Kesalahan yang sering terjadi adalah adanya anggapan atau asumsi bahwa jika pendapatan dan laba naik atau meningkat bagus, performance perusahaan juga ikut bersinar. Asumsi seperti ini terkadang suka menjebak pemikiran banyak orang.

Sebab, meningkatnya pendapatan dan laba tidak selalu menunjukkan kondisi arus kas yang bagus. Ada perusahaan yang dari sisi neraca dan laba rugi bagus, ternyata arus kas-nya jeblok, kering kerontang.

Arus kas ibarat energi bagi sebuah perusahaan. Semakin kecil energi yang tersimpan berarti semakin terbatas daya gerak perusahaan tersebut. Selanjutnya bisa dibayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan yang energinya terbatas? Mau belanja modal tidak bisa, mau ini dan itu juga tidak mampu.

Jika kondisi arus kas tidak dikelola dengan baik, perusahaan seperti ini tinggal menghitung hari. Nah, Anda tentu tidak ingin membeli saham perusahaan seperti ini bukan? Karena itu dalam analisa laporan keuangan, jangan lupa simak arus kas perusahaan. (sumber)


Baca Artikel Tips Bisnis di Ayopreneur

Senin, 14 November 2016

Cara Menghitung Biaya Berdasarkan Aktivitas Bisnis

Cara Menghitung Biaya Berdasarkan Aktivitas Bisnis



Activity Based Costing adalah suatu pendekatan terhadap sistem akuntansi yang memfokuskan pada aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi produk, dimana aktivitas tersebut merupakan titik akumulasi biaya yang mendasar.

Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas ini didasarkan pada konsep produk yang mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Dengan metode ini diharapkan manajemen dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (aktivitas yang dipertimbangkan tidak memberi kontribusi terhadap nilai pelanggan atau terhadap kebutuhan organisasi).

Dalam sistem ABC, harus dilakukan penelitian aktivitas apa saja yang dilakukan untuk memproduksi produk. Ketelitian penemuan aktivitas akan menyebabkan ketelitian perhitungan harga pokok produk.

Lalu, siapakah yang perlu memakai sistem ABC Pada umumnya perusahaan yang menggunakan sistem ini adalah perusahaan yang memiliki karakteristik:

- Perusahaan yang padat modal (banyak menggunakan mesin)

- Perusahaan yang memiliki diversifikasi produk/keanekaragaman jenis produk

- Diversifikasi produk dan menggunakan fasilitas yang sama dalam proses produksinya

- Setiap produknya memiliki proses produksi yang berbeda.

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penerapan sistem ABC yaitu

1. Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitasPengindentifikasian aktivitas-aktivitas menghendaki adanya daftar jenis-jenis pekerjaan yang terdapat dalam perusahaan yang berkaitan dengan proses produksi.

2. Membebankan biaya ke aktivitas-aktivitasSetiap kali suatu aktivitas ditetapkan, maka biaya pelaksanaan aktivitas tersebut ditentukan.

3. Menentukan activity driverLangkah berikutnya adalah menentukan activity driver untuk masing-masing aktivitas yang merupakan faktor penyebab pengendali dari aktivitas-aktivitas tersebut.

4. Menentukan tarif. Dalam menentukan tarif ini, total biaya dari setiap aktivitas dibagi dengan total activity driver yang digunakan untuk aktivitas tersebut.

5. Membebankan biaya ke produk Langkah selanjutnya adalah mengalikan tarif yang diperoleh untuk setiap aktivitas tersebut dengan aktivitas driver yang dikonsumsi oleh tiap-tiap jenis produk yang diproduksi kemudian membaginya dengan jumlah unit yang diproduksi untuk tiap produk. (sumber)


Baca Artikel Tips Bisnis Lainnya di Ayopreneur